Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Arti Kontol, Penis dan Penyakitnya

 

Apa Itu Penis?

Penis adalah organ, bukan otot yang sebagian besar terbuat dari jaringan spons. 

Jaringan spons ini terisi darah untuk menyebabkan ereksi, sehingga seorang pria dapat melakukan hubungan seks secara mandiri atau berpasangan.

Kelihatannya cukup mudah, tapi anatomi penis sebenarnya cukup rumit. Ini terdiri dari kelenjar (kepala), korpus (batang), dan preputium (kulup).



Selain itu, organ satu ini juga menjadi rumah bagi uretra, saluran tipis tempat urine dan air mani keluar dari tubuh.

Kamu perlu tahu kalau ukuran penis pria dewasa rata-rata berkisar 8 sampai 9 sentimeter pada kondisi tidak mengalami ereksi.

Sementara itu, jika mengalami ereksi, panjangnya bisa sekitar 12 sampai 14,5 sentimeter. 

Tak sedikit pria yang merasa cemas karena anggapan bahwa ukuran penisnya terbilang kecil.

Padahal, ada hal lain yang lebih penting untuk diketahui, yaitu penis yang memiliki anatomi yang normal.

Anatomi Penis

Penis mempunya dua fungsi yang paling utama. Tidak hanya memiliki fungsi sebagai organ seksual pria, organ satu ini juga memiliki peran sebagai jalan keluar urine dari tubuh melewati saluran yang mempunyai sebutan uretra.

Secara lengkap, berikut penjelasan mengenai anatomi alat kelamin pria yang perlu kamu ketahui:

1. Kepala penis

Bagian pertama adalah kepala penis. Pada bagian paling ujung, kamu bisa melihat adanya celah dengan ukuran kecil.

Ini merupakan bukaan dari saluran kencing untuk keluarnya urine dan air mani. Jika pria tidak melakukan proses sunat atau sirkumsisi, bagian kepalanya akan tertutup oleh kulup. 

Kulup atau kulit luar ini akan ada pada semua laki-laki sejak lahir. Ketika sunat, dokter akan memotong sebagian kulit kepala penis ini.

Jika melakukannya dengan benar, maka sudah pasti fungsi organ ini secara keseluruhan tidak akan terganggu.

2. Batang penis

Bagian selanjutnya adalah batang penis. Fungsinya yaitu menjadi perantara antara area pangkal dan kepala.

Bagian ini terdiri dari jaringan dan pembuluh darah yang tertutup dengan kulit.

Selain berfungsi sebagai alat untuk melakukan hubungan seksual, batang penis juga merupakan bagian yang memiliki banyak saraf sehingga berperan dalam menyediakan sensasi dan kenikmatan selama aktivitas seksual.

3. Korpus kavernosum

Lalu, korpus kavernosum yang merupakan jaringan pada sepanjang batang penis, lebih tepatnya ada pada bagian kanan dan kirinya. 

Korpus kavernosum terletak di bagian atas dan sisi penis, dan mereka bertanggung jawab untuk mempertahankan ereksi dengan menahan darah di dalamnya. 

Sebelum pria mengalami ereksi, jaringan ini akan terisi penuh oleh darah. Inilah yang membuat batang penis mengeras dan menegang.

Setelah ejakulasi atau setelah rangsangan seksual berakhir, darah akan mengalir keluar dari korpus kavernosum, dan penis akan kembali ke keadaan yang tidak ereksi.

4. Korpus spongiosum

Bagian terakhir adalah korpus spongiosum, jaringan yang menyelimuti uretra dan terletak pada penis sepanjang sisi bawahnya.

Korpus spongiosum adalah salah satu dari tiga silinder saluran di dalam penis pria.

Ini terletak di bagian bawah dan tengah penis dan mengelilingi uretra, saluran yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh. 

Saat terjadi proses ereksi, bagian ini akan berperan untuk membuat saluran kemih terbuka, sehingga air mani bisa keluar ketika pria melakukan ejakulasi.

Jadi, korpus spongiosum adalah salah satu komponen penting dari anatomi penis yang berperan dalam fungsi seksual dan ekskresi urine.

Proses Terjadinya Ereksi

Lalu, bagaimana proses terjadinya ereksi? Sebenarnya, proses ini terjadi karena alat kelamin pria mengalami perubahan aliran darah.

Saat pria mendapatkan rangsangan seksual, saraf akan membuat pembuluh darah pada organ reproduksi pria ini mengalami pelebaran. 

Hal ini akan menyebabkan aliran darah yang memasuki penis tentu lebih banyak daripada aliran darah yang keluar. Alhasil, jaringan pada korpus kavernosum pun menjadi lebih keras.

Terdapat beberapa ciri khas ketika penis mengalami ereksi yang normal, misalnya menyaksikan film porno, melakukan hubungan intim, atau memiliki fantasi seksual. 

Selain itu, alat reproduksi pada pria ini disebut normal apabila terjadi ereksi ketika tidur dan bangun, terutama saat pagi hari.

Dalam dunia medis, kondisi ini memiliki istilah Nocturnal Penile Tumescence (NPT). 

Umumnya, pria yang sehat secara seksual dapat mengalami ereksi sebanyak 3 hingga 5 kali dengan durasi antara 25 sampai 35 menit sepanjang tidur.

Apa yang menjadi penyebab kondisi ini belum pasti, tetapi pakar menganggapnya sebagai salah satu bukti bahwa organ seksual ini dapat berfungsi dengan optimal. Ketahui Fakta Medis Seputar Mr. P Keras lainnya.

Sementara itu, pada beberapa kasus, ada pula pria yang mengalami penis membengkok ke sisi kiri atau kanan ketika ereksi terjadi.

Namun, sebenarnya hal ini tidak selalu mengarah pada kondisi medis yang serius. 

Sebab, selama tidak terjadi bersama dengan rasa sakit dan sulit melakukan penetrasi, penis yang bengkok sebenarnya tidak perlu mendapat perawatan khusus. 

Penyakit yang Sering Terjadi pada Penis

Saat organ kelamin pria mengalami gangguan, pria dapat menunjukkan beberapa gejala khusus.

Mulai dari rasa nyeri, kesulitan untuk mendapatkan orgasme, sulit ejakulasi, hingga risiko terhadap kesuburan atau kemandulan. 

Tidak hanya itu, masalah kesehatan yang menyerang organ reproduksi pria ini tentunya bisa menghilangkan rasa percaya diri.

Adapun beberapa penyakit yang sering terjadi pada organ satu ini, antara lain:

1. Penyakit peyronie

Pertama adalah penyakit Peyronie, kondisi ketika muncul benjolan dengan tekstur keras yang berupa plak pada area atas maupun bawah penis.

Benjolan ini dapat membuat organ ini menjadi melengkung, bahkan tak jarang muncul rasa sakit. 

Penyakit Peyronie terjadi karena hal yang belum pasti, tetapi dokter menduga ada beberapa kondisi yang bisa membuat pria lebih berisiko terserang penyakit ini. 

Misalnya, benturan keras yang membuat organ intim tersebut mengalami cedera, vaskulitis, hingga keturunan.

2. Balanitis

Selanjutnya, ada penyakit balanitis, kondisi ketika kepala penis mengalami peradangan.

Masalah kesehatan ini kerap menyerang pria yang belum sunat atau tidak maksimal dalam menjaga organ ini tetap bersih. 

Jika tidak disunat, maka smegma atau kotoran penis lebih gampang menumpuk dan mengendap pada area kulup. Inilah yang menjadi penyebab kepala penis mengalami iritasi, infeksi, dan peradangan. 

Ketika terserang balanitis, akan muncul beberapa gejala, seperti rasa nyeri ketika berkemih, muncul ruam dan berubah warna menjadi kemerahan, adanya kotoran seperti lemak yang tebal pada kulup. 

Selain itu, bagian ini juga dapat mengalami pembengkakan dan terasa nyeri pada area sekitar kulup.

Kondisi ini memang bisa ditangani, kamu bisa membaca artikel Tips Sederhana untuk Meredakan Gejala Balanitis untuk mengetahui bagaimana caranya.

Namun, sebaiknya kamu tetap melakukan sunat untuk mengurangi risiko penyakit ini. 

3. Fimosis

Berikutnya adalah fimosis, kondisi ketika kulup penis terlalu erat atau ketat, sehingga tiba bisa ditarik kembali pada bagian atas kepala penis.

Kondisi ini memang normal terjadi pada bayi dan usia balita. 

Namun, apabila tidak terjadi perubahan saat pria beranjak remaja atau bahkan dewasa, fimosis mungkin terjadi karena jaringan parut pada bagian kulup. 

Sebenarnya, fimosis bukan merupakan kondisi medis yang membahayakan.

Akan tetapi, jika kamu merasakan beberapa keluhan, seperti pembengkakan dan nyeri, terlihat kemerahan, bahkan kesulitan untuk buang air kecil, kamu perlu segera mendapatkan penanganan.

Sebab, pada usia dewasa, fimosis juga bisa terjadi sebagai akibat dari infeksi menular seksual.

4. Priapismus

Lalu, ada pula priapismus, kondisi saat organ kelamin pria mengalami ereksi dalam waktu lama, bahkan hingga lebih dari 4 jam dan membuat organ seksual pria ini terasa nyeri.

Kelainan ini muncul saat darah yang mengalir pada pembuluh darah organ ini tidak kembali sepenuhnya. 

Penyebab priapismus bisa sangat beragam. Ini termasuk penyalahgunaan narkoba, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, cedera, anemia, adanya masalah pada saraf tulang belakang, hingga efek samping obat.

Priapismus perlu segera mendapatkan penanganan, karena dapat mengakibatkan terjadinya cedera atau luka.

Selain itu, penanganan yang tidak segera kamu lakukan bisa memicu terjadinya disfungsi ereksi.

5. Kanker penis

Kanker penis memang terbilang sebagai penyakit yang jarang terjadi. Namun, bukan berarti kamu bisa menganggap sepele kelainan ini.

Sebab, kanker satu ini menjadi penyakit yang sangat berbahaya dan bisa menyebar ke organ tubuh lain jika kamu tidak segera mendapat penanganan.

Mulanya, kondisi ini akan muncul dengan gejala berupa ruam, luka, atau muncul benjolan pada area penis yang tidak hilang atau sembuh setelah 4 minggu.

Gejala lainnya berupa terjadi perdarahan pada bagian bawah kulup, keluar cairan yang aromanya sangat tidak sedap, hingga perubahan warna pada bagian kulitnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia