Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Cerita Sek Mosaik Perselingkuhan Para Istri 6
Topoin.com - Aku dan suamiku datang 30 menit lebih awal, soalnya ini pesta kawin perak boss dimana suamiku harus menunjukkan loyalitasnya. Bangunan pendopo di rumah boss telah berubah menjadi ball room yang hebat. Nampak meja-meja panjang yang telah ditata mewah lengkap dengan gelas-gelas kristal dan sendok garpu peraknya serta piring-piring porselin diatas taplak putih bersih yang menghampar menutup mejanya. Sementara para pelayan sibuk menyiapkan makanan dan perangkat penunjangnya yang juga memamerkan kemewahan pesta ala orang-orang Barat.
Diatas stage nampak duduk seorang pianis dengan tuxedo buntut-nya yang menyentuh lantai sementara tangannya menyentuh lembut tuts piano Vluegel yang terbuka sayapnya untuk memperdengarkan, entah benar entah tidak, sepotong karya Tchaikovsky. Dan di bawahnya terbentang lantai kayu mahoni yang sangat mengkilat yang nanti akan dipenuhi para pasangan anggun yang melintasinya dalam acara Polonaise yang elegant itu. Aku dan suamiku telah siap untuk ikut meramaikannya dan untuk itu kami telah berlatih Polonaise setiap hari di pusat latihan tari Nana Marina yang top itu.
Sementara itu cahaya ruangan yang datang dari lampu-lampu kristal buatan Rossental yang super mewah jatuh temaram telah menciptakan harmoni antara karpet yang merah darah, meja-meja putih dengan gelas-gelas kristalnya, para tuan dan nyonya yang berseliweran dalam busana resmi pesta berupa jas tuxedo lengkap dengan celananya yang ber-strip sutra putih disampingnya untuk para tamu pria dan gaun malam berwarna gelap untuk wanita pasangannya lengkap dengan sarung tangannya yang membungkus tangan-tangan mereka hingga sebatas lengannya. Aku sendiri setengah mati menyiapkan ini semua.Sebagai perempuan kelahiran desa Gempol, Wonosari, pesta macam begini baru sekali kami alami, dan maknanya sangat luar biasa bagi kami. Kami, suamiku dan aku, mempersiapkan diri lebih dari satu bulan dengan entah menghabiskan berapa juta rupiah untuk busana yang mungkin baru sepuluh tahun lagi kami pakai kembali. Tetapi aku sendiri berbahagia dengan kesempatan ini.
Aku mendatangi Harry Darsono, desainer top kita itu, untuk konsultasi sekaligus memesan busana yang sesuai dengan aku. Kemudian pada jatuh harinya, seharian ini aku berkutat di rumah fashionnya untuk menyetel semuanya termasuk melatih aku bagaimana mesti membawakan diri dengan busana macam ini. Aku memakai gaun terusan yang berhenti di dadaku untuk digantungkan dengan tali lembut ke bahuku. Dengan kain sutra yang khusus di datangan dari Amerika, begitu kata Harry, gaun malamku ini dia kerjakan siang malam selama lebih dari 2 minggu. Hasilnya sangat memuaskan aku. Saat aku keluar hendak pulang mereka bilang tampilanku sangat cantik mempesona seperti Cinderella atau Boneka Barby yang seksi itu. Aku tidak tahu persis, adakah Harry Darsono dan teman-temannya tahu bahwa aku berasal dari desa Gempol, Wonosari.
Kini aku dengan busana malamku, parfum L’Ivonne-ku serta beberapa bentuk gelang berlian ditangan kanan dan kiriku dengan penuh percaya diri menggandeng tangan suamiku bak pengantin agung memasuki ruangan pesta yang sangat mewah ini. Aku merasa seolah-olah semua nafas terhenti dan semua mata menyaksikan kehadiran kami, tentunya karena adanya aku yang dibilang mirip Cinderella dan Boneka Barbie tadi. Ada sih, yang nampak acuh saja saat aku melewati mereka, ah, biarlah, mungkin mereka tahu bahwa aku hanya berasal dari desa Gempol, Wonosari.
Suamiku memperhatikan tulisan nama-nama di meja. Panitia pesta telah menyusun secara protokoler siapa duduk di mana. Sebagai top eksekutif perusahan suamiku membawa aku untuk menempati kursi dekat dengan kursi boss dan nyonya. Disamping kanan kiri kami kubaca nama-nama para tokoh-tokoh masyarakat baik pengusaha, celebriti ataupun pejabat dan politisi negeri tercinta ini. Beberapa tamu yang telah hadir terlebih dahulu memberikan hormat pada suamiku dan kemudian meraih dan mencium tanganku sebagaimana layaknya menghadapi seorang putri terhormat macam Cinderella itu. Pasti mereka termasuk yang tidak tahu bahwa aku berasal dari desa Gempol, Wonosari. Aku merasa sangat tersanjung. Aku lihat mata mereka yang tidak berkedip memperhatikan aku sekaligus melupakan bahwa disebelah kiri mereka ada istrinya yang mestinya tidak kalah cantik denganku. Dan kulihat betapa para istri-istri itu sedemikian cemburu, bahkan ada yang terang-terangan mencibirkan bibirnya, mungkin mereka itu tahu persis bahwa aku asli berasal dari Gempol. Baca selengkapnya!
Cerita Sek Mosaik Perselingkuhan Para Istri 5
Aopok.com - “Tante, aku pengin ngentot memek Tante sekarang”.
Aku tidak tahu maunya, belum juga aku puas mengulum kontolnya dia angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga nonokku terbuka. Kemudian dia tusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke memekku. Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak nyenggol-nyenggol aku. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang golflah. Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku. Kini kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti dan semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar lagi spermanya pasti muncrat, sementara aku masih belum sepenuhnya puas dengan entotannya. Aku harus menunda agar nafsu Donny lebih terarah. Aku cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya, aku berbalik sedikit nungging dengan tanganku bertumpu pada tepian meja. Aku pengin dan mau Donny nembak nonokku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku. Biasanya aku akan cepat orgasme saat dientot suamiku dengan cara ini. Donny tidak perlu menunggu permintaanku yang kedua. Kontolnya langsung di desakkan ke memekku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu.Nah, aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap tusukan kontolnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.Selintas terpikir olehku, di mana si Idang. Apakah dia masih berkutat dengan komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kontolnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny berteriak.
“Dang, Idang, ayoo, bantuin aku .., Dang..”.
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny
“Gue kebagian apanya Don?’
“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.
Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.
Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan tenangnya Idang mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa hormat padaku yang adalah teman mamanya itu, untuk kemudian ditariknya mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya. Kontol Idang nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung batangnya. Saat bibirku disentuhkannya aroma kontolnya menyergap hidungku yang langsung membuat aku kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh kegilaan aku lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya. Tangan Idang terus mengendalikan kepalaku mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku memompa, terkadang dia tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau pelirnya agar aku menjilatinya.
Duh, aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa. Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan kontolnya keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah aku mengalami cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki konvensional. Saat dia menggauliku dia lakukan secara konvensional saja. Sehingga saat aku merasakan bagaimana perbuatan teman dan anak sahabatku ini aku merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat melanda aku. Kini 3 lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka. Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny dan mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kontol Idang.
“Ah, Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku. Enak, kan? Sama kontol Oom enak mana? N’tar Tante pasti minta lagi, nih”.
Dia percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah membusa keluar dai mulutku. Kontol Idang sudah sangat kuyup. Sesekali aku berhenti sessat untuk menelan ludahku. Baca selengkapnya!
Cerita Sex Mosaik Perselingkuhan Para Istri 4
Tradingan.com - Seharusnya Mas Ganjar lebih mensyukuri hidupnya. Keadaan ekonomi keluarga kami boleh dibilang tidak ada kekurangan. Rumah dan perabotannya, mobil, beberapa hektar tanah dan sawah di berbagai lokasi telah kami miliki. Sementara usahanya tetap berjalan baik walaupun keadaan ekonomi umumnya sedang mengalami kesulitan yang besar. Tetapi dia selalu merasa kurang, selalu resah dan gelisah. Sampai-sampai dia nggak pernah lagi menyempatkan untuk menggauli aku sebagai pengisi kerinduan serta menyalurkan libidoku yang relatip masih tinggi ini. Aku sih mencoba memaklumi sepanjang upaya untuk meraih harta yang lebih banyak lagi itu dilakukan secara nalar yang sehat, bukan dengan yang dia selalu tempuh selama ini.
Setiap ada masalah dia bukan memperbaiki cara kerjanya dan berdo’a tetapi dia pergi ke dukun-lah, orang sakti-lah, tidur di kuburan-lah, berendam di kali-lah. Aku sungguh tidak mengerti dari mana dia belajar cara-cara seperti itu. Minggu depan ini rencana dia akan ziarah ke sebuah makam keramat Mbah Rogo di desa Melati di lereng Gunung Merapi. Dia minta aku menemaninya. Menurut Mas Ganjar yang diberi tahu oleh “orang tua”nya yang diberi tahu oleh “orang tua”nya lagi yang diberi tahu oleh “orang tuan”nya lagi lagi dan seterusnya, Mbah Rogo adalah prajurit Diponegoro yang kalah perang kemudian bertapa di lereng Gunung Merapi tempat dia dimakamkan kini. Karena kesaktiannya banyak orang yang punya hajat berziarah tidur di samping makamnya. Dia bilang bahwa para jenderal, para menteri, para gubernur dan bupati yang meraih sukses pasti sebelumnya ziarah dan tidur di samping makam Mbah Rogo itu. Aku tertawa bingung dan geli, katanya sakti kok kalah perang. Dan tak lagi bisa tertahan ketawaku meledak saat Mas Ganjar juga berniat tidur di samping kuburan Mbah Rogo.Kalau soal jalan sih, aku senang-senang saja, hitung-hitung rekreasi, apalagi ke gunung, yang sudah jadi hobby petualanganku sejak SMP dulu. Setiap liburan sekolah mainanku nggak lain camping ke gunung, sampai teman-temanku menjuluki aku sebagai “peri gunung”. Aku bilang jangan ajak aku di kuburannya, nanti malahan aku masuk angin jadi merepotkan. Mas Ganjar menghiburku, bahwa walaupun di lereng Gunung Merapi, di desa Melati itu sudah didirikan hotel berbintang karena para kerabat para jendral, menteri dan macam-macam tadi biasanya ikut mengantarkan mereka yang berniat ziarah. Aku dijanjikan untuk nginap saja di hotel berbintang itu.
Singkat kata, pada jam 5 sore di suatu hari yang telah ditetapkan sebuah mobil Kijang di mana Mas Ganjar bersama istrinya, aku, nampak memasuki gerbang desa Melati. Mas Ganjar yang nyopir seharian itu tidak menunjukkan kelelahan. AC mobil kami matikan karena udara desa ini sangat sejuk dan segar. Bahkan aku merasa kedinginan.
Dengan penuh semangat dia menuju alamat rumah dimana temannya yang juga datang dari Jakarta telah lebih dahulu tiba dan menunggu di sana. Sesudah tanya sana-sini akhirnya kami memasuki halaman sebuah rumah joglo yang luas dan indah. Dan semakin indah karena dari beranda rumah itu kami bisa menyaksikan puncak Gunung Merapi yang selalu mengeluarkan asapnya.
Sesudah memarkir mobil kami menemui seseorang yang kebetulan berada di situ, Mas Ganjar menanyakan apakah Mas Tardjo yang temannya sudah berada disini. Orang tadi bergegas masuk dan tak lama kemudian keluar disertai dua orang lain. Yang satu gagah dan tinggi besar dengan kumisnya yang tebal melintang dan yang lain biasa-biasa saja. Mereka menyambut hangat Mas Ganjar yang kemudian memperkenalkan aku pada Mas Tardjo, ternyata yang berkumis melintang dan Mas Sardi penduduk asli dari desa itu. Aku agak terganggu pada cara memandang Mas Tardjo pada diriku. Matanya sepertinya hendak menelanjangi tubuhku. Aku mudah tergetar dengan pandangan lelaki semacam itu. Walaupun aku berusaha untuk tidak menunjukkan kegugupanku tak urung jantungku berdegup kencang juga. Aku paham dan sering mengalami bahwa pada umumnya lelaki kalau memandang aku selalu memandang dari segi tubuhku. Aku memang tidak cantik, tetapi setiap orang baik lelaki atau perempuan selalu memuji aku sebagai wanita yang manis dan seksi. Apalagi kalau aku pakai celan jeans seperti sekarang ini. Sehingga aku tidak begitu heran saat Mas Tardjo memandangi aku sepertinya ingin menikmati tubuhku.
Kemudian Mas Tardjo bersama Mas Sardi menujukkan kamar kami di rumah itu. Aku langsung komplain pada suamiku, Mas Ganjar, yang katanya aku akan diinapkan di hotel berbintang. Dia tidak bisa menjawab dengan jelas kecuali bahwa hotel yang dimaksud masih dalam perencanaan. Sebentar lagi, katanya dengan enteng. Aku jadi agak sebel. Baca selengkapnya!
Cerita Seks Mosaik Perselingkuhan Para Istri 3
Topoin.com - Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru pulang dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aku.
Kalau aku tidak keluar rumah, Idang anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Idang, yang seingatku sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya.
Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah,“Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny teman saya, Tante”.
Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny dan langsung aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona saat melihat anak Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.
Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya. Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir. Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan memberikan celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.
“Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”.
Kami kembali terbahak mendengar kelakar Idang. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini. Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan Idang ini demen menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku tetap “fresh” dan “good looking”. Aku memang suka merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku jalan sama Oke, suamiku, banyak yang mengira aku anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang. Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua anak ini.
“Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang ‘enggak-enggak’, ya..”, aku tawarkan makan siang pada mereka. Baca selengkapnya!
Cerita Seks Mosaik Perselingkuhan Para Istri 2
Iklans.com - Sejak berkeluarga dan tinggal di Jakarta aku selalu sempatkan pulang mudik menengok orang tua di Yogyakarta setiap hari raya Idul Fitri. Aku paling suka mudik dengan mobil sendiri. Saat anak-anakku masih kecil aku menyupir sendiri sampai ke rumah orang tua. Kemudian saat anakku sudah besar dan dewasa, merekalah yang bawa mobil.
Kalau pulang mudik aku paling senang lewat jalur selatan yang tidak begitu ramai dan jarang ada kemacetan. Dan yang paling aku suka adalah saat aku melewati desa Redjo Legi menjelang masuk kota Purworejo. Disitu tinggal pamanku, yang aku biasa panggil Pak Lik, dia adik sepupu bapakku. Aku sangat akrab dengannya karena anaknya yang seumur denganku indekost di rumahku. Kalau hari libur aku sering diajak pulang ke Redjo Legi cari belut. Depan rumahnya yang hingga kini masih merupakan sawah yang terbentang selalu ada belut untuk kami tangkap dan goreng.
Nostalgia macam itulah yang membuat aku selalu ingin mengenang kembali masa kecilku dengan menyempatkan mampir kerumah Pak Lik setiap aku pulang mudik. Dan ada yang tidak berubah di rumah Pak Lik sejak aku kecil dulu, yaitu rumahnya yang berdinding gedek kulit bambu itu. Indahnya gedek macam itu adalah fungsi sirkulasi udaranya sangat bagus karena gedeknya itu bercelah-celah akibat jalinan bambu yang tidak mungki bisa rapat benar. Dan saat pagi hari matahari akan menembusi gedek itu sehingga panasnya cukup untuk membangunkan kami yang maunya masih bermalas-malas di amben, istilah setempat untuk balai-balai yang terbuat dari bambu. Kondisi dan suasana itulah pulalah yang semakin membuat aku selalu mampir di rumah Pak Lik setiap aku pulang mudik. Dan walaupun saat usianya sudah lebih dari 50 tahun atau 20 tahun di atas saya, tetapi Pak Lik tetap nampak gagah dan sehat.Dua tahun yang lalu Bu Lik meninggal dunia karena sakit sehingga kini Pak Lik menjadi duda. Untuk menopang kegiatannya sehari-hari Pak Lik dibantu pelayan kecil dari kampungnya untuk mencuci pakaiannya dan masak ala kadarnya. Apabila sudah tidak ada lagi yang dikerjakan dia pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Akhirnya Pak Lik menjadi terbiasa hidup sendirian di rumahnya. Sanak saudaranya yang menyarankan untuk kawin lagi agar ada perempuan yang membuatkan kopi di pagi hari atau menjadi teman saat bertandang ke sanak keluarga, tetapi Pak Lik belum juga menemukan jodohnya yang sesuai dengan keinginan hatinya. Walaupun pendidikannya cukup tinggi, waktu itu sudah menyandang titel BA atau sarjana muda, kegiatannya sehari-hari dari dulu hingga kini adalah tani. Dia menggarap sendiri sawahnya.
Tahun ini aku dan istriku terpaksa pulang mudik berdua saja. Anak-anakku punya acara sendiri bersama teman-temannya yang susah aku pengaruhi untuk ikut menemani kami. Ya, sudah. Aku nggak suka memaksa-maksa anak. Mereka perlu dewasa dan belajar mengambil keputusan sendiri. Menjelang masuk kota Kroya jam menunjukkan pukul 2 siang saat aku merasa agak tidak enak badan. Badanku agak demam dan kepalaku pusing. Sambil pesan agar nyopirnya nggak usah buru-buru, istriku memberi obat berupa puyer anti masuk angin yang selalu dia bawa saat bepergian jauh. Sesudah aku meminumnya rasa badanku agak lumayan, pusingku sedikit berkurang. Tetapi tetap saja tidak senyaman kalau badan lagi benar-benar sehat. Menjelang memasuki desa Redjo Legi menuju rumah Pak Lik aku merasakan sakitku tak bisa tertahan lagi. Kupaksakan terus jalan pelan-pelan hingga tepat jam 5 sore mobilku memasuki halaman rumah Pak Lik yang dengan penuh kehangatan menyambut kami.
Ketika dia tahu aku sakit, dia panggil embok-embok di kampungnya yang biasa mijit dan kerokan, kebiasaan orang Jawa kalau sakit badannya di kerok dengan mata uang logam untuk mengeluarkan anginnya. Ketika sakitku tidak berkurang juga akhirnya istriku membawa aku ke dokter yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Aku dikasih obat dan disuruh banyak istirahat dan tidur. Sepulang dari dokter Pak Lik sudah merepotkan dirinya dengan menyediakan makan malam. Sebelum minum obat istriku menyuruh aku makan dulu barang sedikit. Dan seusai aku minum obat, aku langsung diserang kantuk yang luar biasa. Rupanya dokter telah memberikan obat tidur padaku. Aku langsung tertidur pulas.
Sekitar pukul 2 atau 3 malam, aku tidak begitu pasti, aku dibangunkan oleh suara berisik amben bambu dibarengi suara rintihan dan desahan halus dari sebelah dinding kamarku. Kantukku masih sangat memberati mataku. Aku meraba-raba istriku tetapi tak kutemukan, mungkin dia sedang turun kencing. Di rumah Pak Lik kamar-kamar tidurnya tidak dilengkapi lampu. Cahaya dalam kamar cukup didapat dari imbas lampu di ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga yang tembus ke dinding bambu yang banyak celah lubangnya itu. Suara amben yang terus mengganggu kupingku memaksa aku mengintip ke celah dinding. Apa yang kemudian aku lihat langsung memukul diriku. Aku terpana dan limbung. Kepalaku yang pusing karena sakit langsung kambuh. Aku kembali terkapar dengan jantungku yang berdegup cepat dan keras.
Benarkah Dik Narti istriku telah tega mengkhianati aku? Benarkah Pak Lik yang aku selalu baik padanya telah tega menggauli istriku yang mestinya dianggap sama dengan istri anaknya juga? Apakah kekuranganku Dik Narti? Apakah karena kesibukkanku yang selalu merampas waktuku sehingga kamu merasa berhak untuk menerima orang lain? Apakah karena hanya itu sebagaimana yang sering kamu keluhkan padaku? Ataukah Pak Lik yang sudah 2 tahun men-duda telah membujuk rayu padamu dan kamu tak mampu menolaknya? Ah, sejuta pertanyaan yang aku nggak mampu menjawabnya karena semakin menambah pusing kepalaku. Sementara berisik amben itu semakin tak terkendali. Dan rintihan Dik Narti serta desahan berat Pak Lik semakin jelas di kupingku. Aku tak mampu bangun karena obat yang aku minum membuat aku limbung kalau nggak ada yang menuntunku. Aku hanya bisa kembali ngintip dari celah dinding itu. Baca selengkapnya!
Cerita Dewasa Mosaik Perselingkuhan Para Istri 1
Biodataviral.com - Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai anak sendiri. Dan sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti Pakde-nya yang sangat sayang pada keponakannya. Sehari-hari mereka bahu membahu mencari sesuap nasi membantu Pakde di sawah atau Budenya yang buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang Surti mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yang kerja di sawah. Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit tanaman.
Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah hamparan sawah desa yang sangat luas itu. Hujan ini luar biasa lebatnya. Disertai dengan angin yang menggoyang keras dan nyaris merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan kali ini sungguh luar biasa besarnya. Sebagai petani yang telah terbiasa denagn kejadian semacam ini dengan enteng Pakde Marto membabat daun pisang yang lebar untuk mereka gunakan sebagai payung guna sedikit mengurangi terpaan air hujan yang jatuh di wajah mereka yang menghambat pandangan mata.
Sambil memanggul cangkulnya Pakde Marto merangkul bahu Surti erat-erat agar payung daun pisangnya benar-benar bisa melindungi mereka. Surti merasakan kehangatan tubuh Pakde-nya. Demikian pula Pakde Marto merasakan kehangatan tubuh Surti yang istri keponakannya itu. Jalan pematang langsung menjadi licin sehingga mereka berdua tidak bisa bergerak cepat. Sementara pelukan mereka juga bertambah erat karena Pakde Marto khawatir Surti jatuh dari pematang. Kadang-kadang terjadi pergantian, satu saat Surti yang memeluki pinggang Pakde-nya. Tiba-tiba ada “setan lewat” yang melihat mereka dan langsung menyambar ke duanya.Saat Pakde Marto memeluk bahu Surti tanpa sengaja beberapa kali menyentuh payudaranya. Pada awalnya hal itu tidak mempengaruhi Pakde, tetapi hawa dingin yang menyertai hujan itu ternyata mendatangkan gelisah di hatinya. Kegelisahan yang bisa merubah perasaannya. Saat pertama kali Pakde Marto tanpa sengaja menyentuh payudara istri keponakannya dia agak kaget, khawatir Surti menganggap dirinya berlaku tidak sopan. Tetapi saat yang kedua kali dan kemudian dengan sadar menyentuhnya kembali untuk yang ketiga kalinya dia tidak melihat adanya reaksi menolak dari Surti, pikiran Pakde mulai dirasuki “setan lewat” tadi. Dan pelan-pelan tetapi pasti kontol di balik kolornya mulai menghangat dan bangun. Toh rasa ke-imanan Pakde Marto masih berusaha bilang “jangan” walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya dia mengharapkan sesuatu keajaiban, mungkin semacam sinyal, yang datang dari Surti.
Demikian pula Surti yang merasakan beberapa kali payudaranya tersentuh, pada awalnya dia tidak sepenuhnya menyadari. Tetapi saat tersentuh untuk yang kedua kalinya dia mulai mengingat sentuhan yang sama yang sering dilakukan oleh suaminya Iding. Biasanya kalau Iding menyentuh macam itu pasti ada maunya. Pikiran lugu Surti langsung disambar “setan lewat” lagi. Adakah macam kemauan suaminya itu juga melanda kemauan Pakde-nya di hari hujan yang dingin ini? Tetapi sebagaimana Pakde Marto, Surti juga berusaha menepis pikiran buruknya dan berkata dalam hatinya “nggak mungkin, ah”. Walaupun dibalik sanggahannya sendiri itu bersemi di hati kecilnya, akankah datang sebuah keajaiban yang membuat tangan Pakde-nya menyentuh payudaranya lagi? Maka, ketika pelukkan Pakde Marto pada bahu Surti yang semakin mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu sudah merupakan awal kemenangan sang “setan lewat” tadi.
Demikian pula saat hujan yang semakin deras dan jalan yang semakin licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan mengganti posisi pelukan agar tidak jatuh dari pematang, pelukan Surti dari arah punggung pada pinggang dan dada Pakde-nya mendorong lajunya bisikkan “setan lewat” tadi. Buah dada Surti yang empuk menempel hangat di punggung dan tangan halus Surti yang menyentuh perut dan dada, membuat kontol Pakde-nya benar-benar tidak tahu diri. Keras mencuat ke depan seperti cengkal kayu yang menonjol pada sarung anak yang disunat. Untung Surti berada di belakangnya sehingga gangguan teknis itu tidak terlihat olehnya. Pakde Marto mulai mencari-cari apa jalan keluarnya?
Demikian pula yang dirasakan Surti saat memeluki Pakde-nya dari belakang. Tangannya yang ketat memeluk perut dan dada Pakde-nya membuat buah dadanya demikian gatal saat tergosok-gosok punggung Pakde yang tidak mungkin terdiam karena setiap langkah kaki Pakde-nya pasti akan menggoncang seluruh bagian-bagian tubuhnya. Kegatalan macam itu menjadi terasa nikmat saat Surti mengingat bagaimana Iding suaminya sering menggosokkan wajahnya ke payudaranya. Mudah-mudahan Pakde-nya tidak keberatan dengan pelukannya, demikian pikiran lugu Surti. Baca selengkapnya!
Cerita Seks Saat KKN di Entot Kakak Kelas
Tradingan.com - Hai, namaku Dony. Aku tinggal di Yogya tetapi tidak di kotanya melainkan hanya di pedesaan pinggiran kota gudeg itu. Karena tidak mempunyai uang untuk kuliah jadi aku selama beberapa bulan ini setelah pengumuman kelulusan SMU hanya menganggur saja di rumah.
Cerita ini merupakan kejadian nyata di suatu desa T***** di pinggiran kota Yogya pada tahun 1990-an, dan ini menjadi sebuah trauma di desa saya, sehingga saya memberikan nama-nama samaran supaya tidak merugikan pihak lain.
*****
Pada pertengahan bulan Maret tahun 1990-an, desaku kedatangan sekelompok mahasiswa yang akan melakukan KKN. Mungkin karena ini adalah baru pertama kalinya desaku jadi tempat tujuan KKN sehingga penduduk desaku sangat gembira mendengar akan ada mahasiswa yang akan ikut membantu meringankan beban dalam membangun desa kami terutama kepala dusunnya.Kebetulan rumah tinggal yang di pinjamkan oleh kepala dusun untuk sekelompok mahasiswa itu bersebelahan dengan rumah saya, sehingga secara otomatis saya jadi dapat berkenalan dengan mereka. Mereka beranggotakan delapan orang, lima di antaranya cowok, tiga yang lainya cewek. Kebanyakan mereka bukan orang Yogya asli. Mereka ada yang berasal dari Bandung, Sumatra, dan Sulawesi, cuma satu orang yang berasal dari Yogya.
Mereka ditugaskan oleh kepala dusun desa saya untuk membangun sebuah kamar mandi umum untuk sarana desa yang selama ini belum terbangun. Setiap hari, ketika mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, aku selalu memperhatikan salah satu anggota cewek dari ketiga mahasiswi tersebut. Ia bernama Windy, usianya sekitar 22 tahun, lebih tua 3 tahun denganku saat itu. Tingginya sekitar 167 cm, asalnya dari Bandung. Para pembaca tahu sendiri kan kalau orang Bandung umumnya berkulit putih mulus.
Aku selalu memperhatikan Windy karena tubuhnya yang indah dan bahenol itu, ia memakai BH yang berukuran mungkin sekitar 34 atau lebih, karena memang payudaranya sangat menonjol, apalagi saat kerja ia hanya mengenakan kaus ketat dan memakai celana gunung hanya pada bagian atasnya saja, mungkin karena panas sehingga bagian bawahnya tidak dipakainya saat bekerja, meskipun saat berdiri hanya sampai lutut, tetapi saat berjongkok atau duduk bersila, pahanya yang putih mulus itu sangat terlihat jelas dan saat berkeringat, BH-nya terlihat jelas karena tercetak terkena keringat. Aku jelas sangat tergoda dan bernafsu, apalagi di desaku jarang melihat cewek putih secantik dia.
Suatu ketika, saat mereka sedang bekerja keras, entah mengapa Windy minta diantarkan temannya ke tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 200 m dari tempat kerjanya, aku langsung mengikutinya karena hanya gadis itulah yang aku sukai tubuh seksinya.
Sesampai di rumah mereka, Silvi teman Windi yang mengantarkannya, diminta Windi untuk segera kembali ke teman-temannya untuk membantu pekerjaan yang sedang mereka kerjakan agar cepat selesai. Mungkin karena kelelahan, ia langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Karena rumah yang ditempatinya bukan termasuk rumah orang kaya maka kamar mandinya pun juga sederhana sekali, pintunya saja hanya terbuat dari seng yang tidak bisa tertutup rapat, bagian bawahnya terbuka sekitar 5 cm, dan bagian kanan atau kiri pintu juga mudah diintip. Aku sudah hafal dengan bentuk kamar mandi ini karena aku sering mengintip diam-diam dua anak Pak Kadus yang masih SMP dan SMU saat mereka mandi. Meskipun mereka berwajah manis tetapi masih kalah putih dan seksi dibandingkan si Windi. Baca selengkapnya!







Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...